Tensi Naik Saat Dicek? Mungkin Kamu Mengalami Hipertensi Kerah Putih

Bagikan artikel ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on linkedin

Hipertensi Kerah Putih

Hipertensi kerah putih terjadi pada sekitar 30-40% orang (dan > 50% terjadi pada orang tua) yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah saat dilakukan pemeriksaan di rumah sakit/klinik/kantor. Hipertensi kerah putih umum ditemukan pada orang yang lebih tua, pada wanita dan yang tidak merokok. Prevalensinya lebih rendah pada pasien dengan Hypertension-mediated Organ Damage (HMOD), ketika pemeriksaan di klinik/rumah sakit dilakukan secara berulang, atau ketika seorang dokter tidak terlibat dalam pengukuran tekanan darah. 

Pasien dengan hipertensi kerah putih memiliki risiko kardiovaskuler intermediet di antara normotensive dan hipertensi berkelanjutan dan pasien-pasien ini mungkin saja dalam fase transisi yang dapat berdampak pada peningkatan penyakit jantung dalam 10 tahun mendatang.

 

Diagnosis

Hipertensi kerah putih dapat didefinisikan sebagai peningkatan pembacaan tekanan darah yang dilakukan di klinik/rumah sakit (≥ 140/90 mmHg) disertai dengan pembacaan tekanan darah yang normal (< 135/85 mmHg) di rumah. Untuk dapat membantu menentukan diagnosis ini, maka diperlukan pengukuran tekanan darah yang dilakukan baik di kantor/klinik/rumah sakit dan di luar kantor/klinik/rumah sakit/di rumah sehingga dapat membantu mendeteksi lebih awal kemungkinan dari hipertensi jenis ini.

 

Tanda dan Gejala

Selayaknya hipertensi pada umumnya, hipertensi kerah putih seringkali tidak bergejala, adapun bila bergejala maka gejalanya bersifat ringan, dan dapat berupa:

  • Pusing
  • Mudah lelah
  • Sulit konsentrasi
  • Sulit tidur
  • Masalah penglihatan
  • Gejala-gejala yang timbul bila hipertensi sudah menimbulkan kerusakan organ seperti sakit kepala hebat, mimisan, nyeri dada, jantung berdebar, pandangan kabur, buang air kecil bercampur darah

 

Apa yang Perlu Dilakukan?

Tatalaksana yang terkait dengan hipertensi kerah putih, tidak selalu melibatkan pemberian obat secara rutin. Pengukuran tekanan darah secara berkala memang akan bermanfaat bagi pasien namun menganjurkan modifikasi gaya hidup tidak dapat dipungkiri dapat membantu pasien-pasien ini agar tidak jatuh ke dalam kondisi hipertensi berkelanjutan yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Modifikasi gaya hidup yang dimaksud adalah dengan

  • anjuran untuk membatasi konsumsi garam
  • anjuran merubah pola makan menjadi pola makan yang melibatkan lebih banyak sayuran dan buah-buahan serta menghindari makanan berlemak jenuh
  • menurunkan berat badan dan menjaga berat badan ideal
  • anjuran untuk berolahraga secara teratur setidaknya 30 menit latihan aerobik dinamik berintensitas sedang 5-7 hari per minggu
  • anjuran berhenti merokok 

 

 

Referensi

  • Konsensus Penatalaksanaan Hipertensi 2021: Update Konsensus PERHI 2019. Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia
  • Clinical Practice Guidelines. 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines
  • European Society of Cardiology. 2018 ESC/ESH Guidelines for the management of arterial hypertension
  • Japanese study finds white-coat hypertension doubles risk of eventual true hypertension. Marlene Busko. July 20, 2005. Medscape

Unduh Aplikasi Klinisia Sekarang

Soal kesehatan, jangan diremehkan.
Seremeh apapun keluhanmu, Klinisia ada untukmu!

Jl. Jaya Mandala IV No. 25e RT. 11/RW. 01, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan Jakarta 12870

© Klinisia – PT Kawan Sehat Indonesia 2022