Retinopati Diabetik

Bagikan artikel ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on linkedin

Retinopati diabetik adalah kelainan retina yang ditemukan pada penderita diabetes melitus. Retinopati diabetik merupakan salah satu bentuk komplikasi diabetes melitus, di mana kadar gula yang tinggi pada akhirnya mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah retina mata, terutama di jaringan-jaringan yang sensitif terhadap cahaya. Kondisi ini dapat diderita oleh siapapun yang menderita diabetes tipe 1 maupun 2, terutama mereka yang gula darahnya tidak terkontrol dan telah menderita diabetes dalam jangka waktu yang lama

Gejala dan tanda 

Pada awalnya, sering kali retinopati diabetik hanya menunjukkan gejala ringan, atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Namun apabila tidak ditangani, retinopati diabetik dapat menyebabkan kebutaan.

Namun pemeriksaan retina secara berkala bisa membantu mendeteksi retinopati lebih dini. Pemeriksaan oleh dokter antara lain dilakukan dengan mengambil foto bagian terdalam retina atau fundus.

  • Penglihatan menurun secara bertahap
  • Tampak  bercak noda atau bitnik yang melayang pada penglihatan (floaters)
  • Penglihatan berbayang
  • Nyeri pada mata atau mata merah

Meskipun tidak selalu menandakan retinopati diabetik, namun disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata atau dokter spesialis mata ahli vitreoretina apabila muncul gejala di atas. Perlu diketahui, kehamilan dapat memperparah kondisi retinopati diabetik. Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk menjalani pemeriksaan mata rutin.

 

Untuk mendiagnosis retinopati diabetik, dokter akan melihat bagian dalam bola mata pasien dengan alat khusus bernama oftalmoskop. Kondisi bagian dalam bola mata akan lebih jelas terlihat bila celah di tengah mata atau pupil mata terbuka lebar.

Pengobatan retinopati diabetik tergantung kepada tingkat keparahannya. Bagi pasien retinopati diabetik tahap awal, pengobatan belum diperlukan. Meskipun demikian, dokter akan menganjurkan pasien untuk rutin mengontrol kadar gula darah dan kesehatan mata.

Sedangkan pada kasus retinopati diabetik tahap lanjut, dokter dapat merekomendasikan sejumlah prosedur medis kepada penderita, antara lain:

  • Suntik obat ke dalam mata. Dokter akan memberikan suntikan obat langsung ke dalam bola mata, untuk mencegah pembentukan pembuluh darah baru. Obat yang diberikan adalah bevacizumab.
  • VitrektomiVitrektomi dilakukan dengan membuat irisan kecil pada mata, guna mengeluarkan darah dan mengangkat jaringan parut dari bagian tengah mata.
  • Fotokoagulasi. Fotokoagulasi merupakan terapi sinar laser yang bertujuan memperlambat atau menghentikan kebocoran cairan dan darah di dalam bola mata. Terapi ini dilakukan dengan menembakkan sinar laser secara terfokus pada pembuluh darah yang abnormal.

Pencegahan 

Mengatur kadar gula darah hingga nilai normal adalah salah satu cara mencegah hilangnya penglihatan. Pada penderita diabetes, sejumlah langkah berikut dapat  membantu menurunkan risiko terjadinya retinopati diabetik:

  • Memantau dan catat kadar gula darah beberapa kali dalam sehari. Laporkan hasilnya ke dokter ketika kontrol.
  • Mulailah mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan membatasi asupan gula dan lemak.
  • Turunkan berat badan hingga mencapai indeks massa tubuh (IMT)
  • Lakukan olahraga ringan, seperti berjalan kaki, minimal 150 menit tiap minggu.
  • Gunakan obat penurun gula darah atau insulin sesuai dengan anjuran dokter.
  • Selalu waspada bila merasa ada perubahan pada penglihatan.
  • Berhenti merokok dan batasi konsumsi minuman beralkohol.
  • Jaga kadar kolesterol dan tekanan darah agar tetap normal.
  • Periksakan mata secara rutin, minimal setahun sekali.

 

Referensi

Mayo Clinic (2018). Diseases and Conditions. Diabetic Retinopathy.

P2PTM Kemkes (2018). Apa Itu Retinopati Diabetik?

Unduh Aplikasi Klinisia Sekarang

Soal kesehatan, jangan diremehkan.
Seremeh apapun keluhanmu, Klinisia ada untukmu!

Jl. Jaya Mandala IV No. 25e RT. 11/RW. 01, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan Jakarta 12870

© Klinisia – PT Kawan Sehat Indonesia 2022