Askariasis

Bagikan artikel ini
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on linkedin

Sebanyak sekitar 807 juta hingga 1,2 milyar orang-orang di dunia terinfeksi oleh Ascaris lumbricoides (terkadang hanya disebut sebagai Ascaris saja atau askariasis). Di Indonesia, prevalensi askariasis cukup tinggi, terutama pada anak (frekuensinya 60-90%). Askariasis itu sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh infestasi parasit Ascaris lumbricoides.

Faktor Risiko

Faktor-faktor risiko yang dapat mempengaruhi kerentanan seseorang menderita askariasis, adalah antara lain:

  • Kebiasaan tidak mencuci tangan
  • Kurangnya penggunaan jamban atau akses terhadap higiene personal yang terbatas
  • Kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk
  • Kebiasaan tidak menutup makanan dengan baik sehingga makanan dihinggapi oleh lalat yang membawa telur cacing tersebut

 

Tanda dan Gejala

Penderita penyakit ini seringkali tidak menunjukkan gejala yang spesifik, namun pada beberapa penderita beberapa gejala yang patut digali pada saat menanyakan keluhan adalah antara lain nafsu makan yang menurun, perut terasa membuncit, lemah, pucat, berat badan kian menurun, juga mual dan muntah. Gejala-gejala yang timbul dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan migrasi larva.

Gangguan yang disebabkan oleh karena larva umumnya terjadi karena adanya migrasi awal larva (dalam 10-14 hari pertama setelah tertelan) terutama melalui paru sehingga menyebabkan  perdarahan kecil pada dinding alveolus, batuk (dapat berupa batuk darah), demam, nyeri dada dan eosinofilia. Pada gambaran foto toraks dapat terlihat infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini disebut dengan sindroma Loeffler

Gangguan yang disebabkan oleh cacing dewasa umumnya ringan dan tergantung dari banyaknya cacing yang menginfeksi di usus. Gejala yang terjadi bisa berupa konstipasi, mual, nafsu makan berkurang, diare.

Pada jenis infeksi yang lebih berat, terutama yang terjadi pada anak yang malnutrisi, infeksi cacing ini dapat menyebabkan gangguan penyerapan makanan, rasa tidak enak di perut, kolik yang bersifat akut, mencret. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka dapat timbul gejala muntah cacing yang dapat beresiko menimbulkan komplikasi penyumbatan saluran napas oleh cacing dewasa. Pada keadaan lain, cacing juga bisa menyebabkan sumbatan pada usus yang memicu ileus atau menyebabkan peradangan pada usus buntu yang menyebabkan peradangan pada usus buntu (apendisitis).

Diagnosis

Diagnosis pasti dari penyakit ini adalah dengan menemukan adanya telur Ascaris di dalam sampel tinja penderita dengan menggunakan mikroskop. Oleh karena telur ini mungkin akan cukup sulit ditemukan pada infeksi ringan, prosedur pemekatan yang direkomendasikan dapat dilakukan. 

Tatalaksana

Tatalaksana yang dapat dilakukan pada askariasis adalah dengan pemberian anthelmintik (obat yang membasmi parasit cacing dari dalam tubuh) seperti albendazole dan mebendazole. Infeksi cacing umumnya akan diobati selama 1-3 hari dan pengobatan terbukti efektif dengan efek samping yang dapat ditoleransi. Dosis pengobatannya adalah sebagai berikut:

  • Pirantel pamoat 10 mg/kgBB/hari dosis tunggal, atau
  • Mebendazol dosis 100 mg, dua kali sehari diberikan selama 3 hari berturut-turut, atau
  • Albendazol, pada anak di atas usia 2 tahun diberikan 2 tablet (400 mg) atau 20 ml suspensi, dosis tunggal. Tidak boleh diberikan pada ibu hamil.

Pencegahan

Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan terinfeksi penyakit askariasis, yaitu antara lain:

  • Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum akan menyiapkan makanan
  • Mengajari anak tentang pentingnya mencuci tangan dengan baik untuk mencegah infeksi
  • Menghindari menggunakan/kontak dengan tanah yang mungkin sudah terkontaminasi tinja manusia / tinja babi termasuk tanah yang menggunakan tinja manusia sebagai pupuk
  • Menggunakan jamban yang sudah disediakan atau tidak buang air besar sembarangan
  • Senantiasa membersihkan dengan baik sayuran, buah atau bahan makanan lain sebelum akan digunakan
  • Menjaga higiene personal dan kebersihan rumah serta lingkungan di sekitar rumah

 

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. Ascariasis. Feb 8 2018.

Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Edisi Revisi Tahun 2014.

Ascariasis. Oct 1, 2021. Medscape Reference. 

Unduh Aplikasi Klinisia Sekarang

Soal kesehatan, jangan diremehkan.
Seremeh apapun keluhanmu, Klinisia ada untukmu!

Jl. Jaya Mandala IV No. 25e RT. 11/RW. 01, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan Jakarta 12870

© Klinisia – PT Kawan Sehat Indonesia 2022